Cerdas Pendengaran, Melatih Kepekaan *
Oleh : Yusron Aminullah **
Kamis, 24 September 2009 19:11
SEORANG guru mengeluh dan datang berkonsultasi. Ia tidak paham dan sulit memahami perilaku seorang murid SMA-nya yang bandel dan tidak peka terhadap kawan. Bahkan ribuan kalimat dan nasehat, rasanya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. “Kata bapak, dengan kata-kata indah, lembut akan menjadikan anak lembut dan baik. Kenapa itu tidak berlaku bagi si badung ini. Dengan kata kata kasar saja susah diatur apalagi dengan kata-kata lembut,” keluh guru ini.
“Sudah berapa lama bapak berlaku lembut padanya,” tanya saya.
“Hampir setahun pak, dia tidak berubah,”
“Baru setahun saja pak. Bukan sudah setahun....Masak tidak ada perubahan sama sekali,?”
“Ada sih, tapi tidak banyak. Dulu kalau diajak bicara agak cuek, sekarang sudah mulai mau mendengar, meskipun belum mau melaksanakan,”
“Selama setahun, berapa persen bapak berkata lembut dan berapa persen berkata kasar?”
“Wah sulit pak diukur. Ya fifty fifty lah pak.”
“Nah ini masalahnya. Menabur keindahan lewat kalimat indah, bapak “kubur” sendiri dengan kalimat kasar. Padahal hampir pasti, anak didik bapak itu sejak kecil pendengaran yang diterima dalam pendidikan orang tuanya adalah kata-kata kasar. Bentakan, hardikan, olok-olokan dan pilihan kalimat orang tuanya lainnya yang buruk,”
“Lantas pak?”
“Menghadapi anak didik seperti ini harus mendapat perlakuan khusus. Anak harus sering diajak bicara berdua. Guru jangan terlalu banyak mempermalukan di depan banyak kawannya. Kalimat indah harus dominan dibanding kalimat kasar. Untung kalau bapak sudah bisa jadi manusia super sabar, maka tidak ada lagi kata bentakan. Karena anak didik bapak ini sudah pasti diotaknya, dihatinya telah tertanam energi negatif yang menyebar akibat kata kata kasar orang tua dan lingkungannya sejak kecil.”
DIALOG sederhana ini menjadi pintu masuk pembahasan kita soal cerdas pendengaran. Hampir semua ilmu membenarkan, bahwa masa kecil adalah masa paling penting bagi perkembangan seseorang.
Kalau sejak kecil, di rumah dan lingkungannya, yang didengar anak adalah kata kata kasar dalam bentuk bentakan, omelan, cacian, sudah pasti yang tertanam dan tumbuh subur adalah sikap KASAR dan lemahnya KEPEKAAN. Kalau musik yang diputar di rumah adalah dominan musik bernada keras, akan menambah bebalnya anak terhadap lingkungan.
Anak yang dididik dalam lingkungan seperti ini SUDAH HAMPIR PASTI akan menjadi anak yang kasar di kemudian hari. Tidak peka terhadap lingkungan, tidak mudah terenyuh pada penderitaan sesama. Bahkan kalau menjadi pemimpin, tidak akan memahami kesulitan yang dihadapi yang dipimpinnya. Karena sejak kecil tidak dilatih kecerdasan pendengarannya. Ia juga akan menjadi pemimpin yang tidak mudah dikritik. Karena pendengarannya “dalamnya” tidak dilatih dengan baik sejak dini. Pendengaran “dalamnya” sudah tertutupi oleh kabut kekerasan yang tertanam sejak dini.
Berbeda dengan lingkungan rumah yang dihiasi dengan ribuan kata dan kalimat orang tua yang lembut, indah dan santun, dilengkapi dengan alunan musik klasik yang lembut, suara dzikir, bacaan ayat suci dan shawalat bagi orang muslim dan lagu kerohanian bagi yang beragama lain, adalah salah cara melatih anak menjadi lembut dan peka terhadap lingkungan. Ia lebih mudah mendengar dan akan mampu menangkap secara jernih, karena pendengarannya cerdas dan dilatih sejak dini. Kelak kalau dia menjadi pemimpin akan mudah mendengar kritikan, masukan dan usulan masyarakat. Dia akan mudah memahami dan merasakan penderitaan rakyat, dia akan mudah memahami anak buahnya. Karena kebiasaan menata pendengaran dengan tepat akan melahirkan kebiasaan yang benar.
KALAU hari hari ini ada sebagian anggota DPR, Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dan pejabat lainnya TIDAK PEKA terhadap problema masyarakat, tidak bisa “membaca” kegelisahan masyarakat, tidak bisa “menangkap” keinginan murni masyarakat dan bahkan tidak mau tahu bahwa dia digaji banyak oleh negara adalah menggunakan uang rakyat, salah satu sebabnya adalah sejak kecil tidak dilatih oleh orang tuanya untuk menjadi pendengar yang cerdas.
Beruntunglah kita, masyarakat umum dan mungkin sebagian pemimpin dan pejabat yang telah dididik oleh orang tuanya dengan pendengaran yang cerdas, maka insya Allah akan menjadi peka terhadap lingkungan, memahami penderitaan yang lain. Semoga.
Jombang, 3 Syawal 1430 H
__________
**Yusron Aminulloh, lahir 45 tahun. Pencarian hidupnya tidak pernah berhenti. Setelah menjadi guru SD, SLB-E, SMP hingga jadi wartawan selama lima belas tahun, mulai dari FAKTA, Surabaya Post dan berbagai media lain. Ia kini ia nekuni TV lokal di Propinsi Kepri. Namun cita-cita hanya satu, ingin menebarkan energi positif ke penjuru negeri.
Bapak tiga anak ini, Mirza, Rachel dan Jordan ini, disamping bekerja di dunia televisi dan menjadi Sekjen Afiliasi TV Lokal Indonesia, juga Ketua Pokja Unggulan Lokal ICMI Pusat. MEP (Menebar Energi Positif) adalah ikon yang ia kampanyekan kemana-mana. Kini ia aktif menjadi trainner guru, pemuda, dan keluarga2 di seluruh Indonesia dalam berbagai pelatihan dan acara.
________
Sumber : http://jongjava.com/web/cermin/380-cerdas-pendengaran-melatih-kepekaan